ORANG YANG PANTAS DIJADIKAN TEMAN

ORANG YANG PANTAS DIJADIKAN TEMAN

Share This

 




Ulasan Pengajian kitab Ihya' Ulumiddin

Hari/ Tanggal : Kamis, tanggal 28 Dzul Qa'dah 1445 H - 06 Juni 2024 M
Oleh  : Al Habib Abdul Qodir bin Abuya Ahmad bin Husein Assegaf


: بيان الصفات المشروطة فيمن تختار صحبتة

"Menjelaskan sifat-sifat yang disyaratkan bagi orang yang pantas untuk dijadikan teman"


          Sesungguhnya tidak semua orang itu bisa dijadikan teman atau sahabat. Sebagaimana sabda Rasulullah:


ُالمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِل

          "seseorang itu mengikuti atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa orang yang hendak ia jadikan teman (kekasih)." (HR Abu Dawud, Al-Tirmidzi)


          Maka kita harus mencari teman yang memiliki kriteria yang cocok dengan kita, adapun syarat-syaratnya itu tergantung keuntungan yang kita dapat dari pertemanan tersebut. Seumpama ada seorang yang berteman dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan duniawi, misalnya dalam masalah keuangan dan gengsi. Maka syarat orang tersebut untuk ditemani yaitu kaya dan dermawan. Ataupun ada seorang yang berteman dengan tujuan supaya menjadi orang saleh, maka syarat orang yang ingin ia temani yaitu tidak fasik dan saleh juga. itu semua karena sesuai dengan kebutuhannya.


     Sebab itu, teman terbagi menjadi dua macam. Pertama, urusan dunia. Kedua, urusan akhirat.

          Pertama, urusan dunia, yang mana orang tersebut memiliki harta atau sekedar pergaulan dan hiburan saja. Semacam ini tidak dibahas oleh Imam Al-Ghazali karena hanya keuntungan duniawi saja dan bukan salah satu dari tujuan kita.


          Kedua, urusan akhirat, maka hal ini tujuannya berbeda-beda.

     1.) Ada orang yang berteman untuk mendapatkan tambahan ilmu atau ingin giat dalam beribadah. Sebab itu, terkadang ada orang yang dapat ilmu bukan karena ia menimba di pesantren atau dapat dari seorang ustaz, akan tetapi mendapatkan ilmu tersebut dari temannya sendiri. Maka dari itu telah banyak cerita orang yang menjadi walinya Allah karena berteman dengan orang alim, saleh, dan para arifin. 


     2.) Ada orang yang berteman untuk mendapatkan kedudukan. Supaya ia memiliki penjagaan hati dan pikiran akan orang-orang yang membuat dirinya risau dari gangguan lisan atau perbuatan mereka. Ini memang terlihat sesuatu yang tidak penting, akan tetapi sebenarnya sangat diperlukan. Seumpama ada orang yang terganggu dengan perbuatan lisan, hal itu bisa menggagu kefokusan dirinya dalam ibadah disebabkan hatinya terluka. Karena luka hati itu lebih menggagu daripada luka fisik.


          Maka dari itu, Imam Al-Ghazali memperbolehkan hal tersebut dengan tujuan supaya terjaga dari perkataan orang-orang yang mengganggu ibadah kita. Sebagaimana Sayyidina Husain, beliau terkenal suka memberi dan membantu orang lain, ketika Sayyidina Hasan bertanya soal perbuatannya tersebut, beliau menjawab, "iya supaya aku selamat dari gunjingan seseorang."


     3.) Ada orang yang berteman untuk mendapatkan kebutuhan hidup. Sehingga waktunya tidak disibukkan untuk mencari kebutuhan hidup. Sudah banyak diketahui kisah pertemanan yang seperti ini, ibarat pebisnis dan ahli ibadah. 


          Sebagaimana dikisahkan pada zaman Imam Junaid, terdapat saudagar kaya yang memiliki toko. Dan hasil dari perdagangannya tersebut dibuat untuk membantu rumah-rumah orang sufi. Tatkala orang kaya tadi bangkrut, maka Imam Junaid memiliki inisiatif dengan mengumpulkan uang dari saudara-saudaranya untuk dijadikan modal kembali. Dan Imam Junaid berkata, "benar dia adalah orang yang kaya tapi sebenarnya ia itu wali Allah." Lalu ketika ditanya saudagar kaya tadi dengan pertanyaan, "kenapa kamu tidak sumbangkan harta-hartamu kepada fakir miskin saja?." Dijawab, "sungguh aku memberinya kepada orang alim atau ahli ibadah karena tujuan mereka hanya satu yaitu ibadah dan cari ilmu."


          Oleh karena itu, persahabatan dalam islam menjadi salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada umat manusia. Sebab itu memilih sahabat yang baik juga merupakan sebuah tugas yang tidak mudah. Maka sudah sepantasnya untuk selektif dalam memilih sahabat yang cocok dalam kriteria kita. Karena sesungguhnya persahabatan dan persaudaraan yang dijalin dengan keimanan dan ketakwaan akan mengantarkan kebaikan bagi setiap orang.



Wallahu a'lam bi Asshawab.

Mudah-mudahan bermanfaat.  https://t.me/darulihya

                                                    https://wa.me/c/6283141552774



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages