MUJAHADAH YANG SEBENARNYA

MUJAHADAH YANG SEBENARNYA

Share This


TAJRID SHOHIH BUKHORI

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرو رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيْ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم فَاسْتَأْذَنَهُ فِيْ الْجِهَادِ فَقَالَ: ((أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟)) قَالَ نَعَمْ قَالَ: (( فَفِيِهِمَا فجَاَهِدْ)) 

Dari Sahabat Abdullah bin Amr Radiyallahu 'anhuma beliau berkata: "Datang seorang laki-laki (namanya Jahimah Al-Aslami) kepada Nabi Saw meminta izin ingin mengikuti jihad, maka Nabi bertanya: ((Apakah kedua orang tuamu masih hidup?)), laki-laki tersebut menjawab: Iya, kemudian berkata Nabi Shollahu alaihi wasallam : ((Maka berjihadlah kepada mereka))." (Berbakti kepada kedua Orang tua).

          Didalam riwayat imam An-Nasa'i Nabi SAW lebih menekankan berbakti kepada Ibu sebagaimana yang disebutkan: 

وَفِيْ رِوَايَةِ اِمَام النَّسَائِي: (( أَلَكَ وَالِدَةٌ؟)) قَالَ: نَعَمْ قَالَ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم ((فَاذْهَبْ فَاَكْرِمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلِهَا)) 

Nabi SAW bertanya: ((Apakah engkau mempunyai ibu)), laki-laki tersebut menjawab: iya, Nabi Shollahu alaihi wasallam berkata : ((Maka pergilah dan muliakan ibumu karena surga berada di telapak kakinya)). 

          Dalam Hadist ini Al-Habib Abdul Qadir Assegaf menjelaskan bahwa berjihad dengan Nabi dalam mendan peperangan itu melawan orang-orang kafir sedangkan berjihad kepada kedua orang tua terutama seorang ibu itu melawan hawa nafsu (mujahadatunnafs).

         Berbakti kepada orang tua itu sangat sulit dan sangatlah berat, butuh mujahadah yang tinggi, Al-Imam Abu Yazid Al-Busthamy beliau adalah seorang yang kuat dalam bermujahadah, melawan hawa nafsu, akan tetapi beliau mengakui bahwa berbakti kepada orang tua itu sangat sulit butuh mujahadah yang tinggi. Sebagaimana yang dikisahkan bahwa suatu malam ibu beliau meminta untuk diambilkan air, akan tetapi hati beliau merasa berat untuk melakukan hal itu, kemudian beliau termenung dan teringat bahwa beliau melakukan perjalanan haji yang lamanya satu bulan akan tetapi beliau tidak merasa berat dan melakukannya dengan senang hati sedangkan mengambilkan air untuk ibu beliau hanya beberapa langkah saja tetapi timbul rasa berat hati. Maka beliau menganggap bahwa haji nya selama ini tidaklah ikhlas (bukan karena Allah).

           Kedudukan orang tua pun dalam Al-Quran itu terletak pada nomor dua setelah perintah menyembah Allah, sebagaimana yang di sebutkan dalam firman Allah:

  ((وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا)) 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain dia (Allah) dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua." (Qs.Al-Isra' : 23)

           Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan oran tua itu sangatlah tinggi dan sangat mulia, para ulama berpendapat bahwa ketika seorang anak melaksanakan sholat sunnah tiba-tiba orang tuanya memanggil maka wajib bagi dia untuk membatalkan sholatnya  dan memenuhi panggilan orang tuanya. (Ada sebagian ulama juga yang mengatakan, bahwa sholat wajib pun harus dia batalkan, akan tetapi pendapat ini kurang kuat). Dan juga sebagian ulama' mengatakan bahwa ketika hendak sholat wajib sebaiknya dan perlu bagi seorang anak untuk meminta izin kepada orang tuanya agar mereka tidak memanggil anaknya karena tahu bahwa anaknya sedang sholat dan juga agar orang tua tidak merasa jengkel kepada anaknya karena panggilannya tidak dijawab,  jika orang tua sudah jengkel kepada anaknya itu sagatlah berbahaya, karena sama saja membuat hati orang tua itu sakit.

           Dalam Al-Quran dan Hadist perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua itu paling banyak daripada perintah orang tua berkasih sayang kepada anak, karena kasih sayang orang tua kepada anaknya itu sudah tabiatnya, dan pasti ada dalam hati orang tua, sedangkan berbaktinya seorang anak  dan kasih sayangnya kepada orang tua itu sulit dan berat sekali. 

            Apalagi jika seseorang sudah mempunyai istri, hal itu membuatnya lebih sulit untuk berbakti kepada orang tua, antara dia membuat ridho orang tuanya atau istrinya, tetapi kebanyakan orang lebih mendahulukan dan lebih memilih istrinya daripada orang tua terutama ibu.

            Maka ketika seseorang hendak menikah, hendaknya katakan kepada istrinya bahwa orang tuanya itu lebih dia utamakan dan lebih dia cintai, agar sang istri mengerti dan mengetahui bahwa sang suami itu lebih  mengutamakan orang tuanya daripada dirinya. (abdullah.mthr7)



Wallahu a'lam bi Asshawab.

Mudah-mudahan bermanfaat.  https://t.me/darulihya

                                                          https://wa.me/c/6283141552774

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages