ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI AL MALIKI AL HASANI

ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI AL MALIKI AL HASANI

Share This


         ABUYA maliki, begitulah beliau disapa oleh murid dan pecintanya. Abuya merupakan kata sapaan yang menunjukan kedekatan hubungan antara anak dan ayah. As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah sosok ulama yang dikenal memiliki kedekatan hubungan emosional dengan muridnya dan umat islam di Indonesia.
          As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dilahirkan pada tahun 1365 H, yang bertepatan dengan tahun 1946 M di Kota Suci Makkah. Dalam bimbingan ayahnya, Sayyid Muhammad mempelajari dan mendalami berbagai disiplin keilmuan, diantaranya adalah: Akidah, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Musthalah, Nahwu dan berbagai disiplin ilmu keislaman lainnya. Abuya  Maliki juga menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari pada tokoh ulama yang berada di Hijaz kala itu.
          Banyak orang yang menyebut Sayyid Muhammad Alawi sebagai al-allamah (seorang yang sangat mengetahui ilmu agama) atau ulama besar. Bahkan, Syaikh Muhammad Sulaiman Faraj, seorang ulama Makkah, menyebutnya al-arif billah (wali). Beliau juga sering di sebut dengan julukan ‘Al-Muwaththa’ berjalan’ kerena beliau hafal kitab Al-Muwaththa’ Imam Malik sejak umur 15 tahun.
          Abuya Maliki dikenal seabgai ulama yang menentang sikap sewenang-wenang yang mengatakan bahwa saudara muslim lainnya sebagai orang kafir dan musyrik. Pada tahun 1980 M terjadi perselisihan besar antara Abuya Maliki dengan beberapa ulama wahabi setempat. Mereka menuduh Abuya Maliki telah meyebarkan ajaran bid'ah dan khurafat serta dianggap sebagai sufi yang membawa ajaran sesat. Entah bagaimana tuduhan tersebut sampai ke pihak Kerajaan Saudi Arabia. Melalui Dewan Keagamaan Saudi, Abuya Maliki dilarang berdakwah di kawasan Arab Saudi, serta melarang peredaran buku-buku karyanya dan beliaupun dikucilkan dan diintimidasi, hingga Abuya Maliki berpindah menuju Kota Madinah untuk beberapa waktu.
          Selama di Kota Madinah beliaupun dilarang mengajar, bahkan beliau dilarang menjadi khatib dan imam shalat. Namun dengan dukungan salah satu Muridnya yakni Dr. Ahmad Zaki Yamani (Mantan Menteri perminyakan Arab Saudi), maka Abuya Maliki dapat berdakwah melalui kitab-kitab karyanya. Namun persoalan pun kian meruncing, akhirnya dapat dicari jalan tengah untuk melakukan klarifikasi dan penjelasan hingga beradu argumen, baik melalui kitab maupun perdebatan yang ditayangkan secara langsung di stasiun TV setempat.
          Setelah beberapa waktu, akhirnya Abuya Maliki menerbitkan buku yang berjudul Mafahim An-Tushahah (pemahaman yang harus diluruskan) ditambah lagi Abuya Maliki 'memenagkan' perdebatan dengan para ulama wahabi yang selama ini menuduh beliau menyebarkan kesesatan yang ditayangkan secara langsung di stasiun TV Saudi setempat. Dari situlah para ulama yang selama ini menentangnya mengakui kehebatan dan keluasan ilmunya, bahkan para pejabat kerajaan pun segan dan hormat kepadanya.
          Abuya Al-Habib Ahmad bin Husein Asseggaf pernah berkata: "Hidup di rumah Abuya (maliki) laksana berada di surga, tidak dapat terulang lagi, semuanya manis tidak ada yang pahit."
          Beliau wafat hari jumat tgl 15 Ramadhan 1425H / 30 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping makam istri Rasulullah Khadijah binti Khuwailid. Para murid-murid Abuya Maliki seakan tak percaya, mereka menangis dan berteriak histeris, bahkan dari mereka banyak yang pingsan. Sesaat setelah itu para pentakziah berdatangan begitu banyak, entah dari mana mereka, mereka merasa kehilangan sosok panutan. Lantunan surat yasin, tahlil dan do'a bergema di rumah duka di rushaifah, sekitar 6 kilometer dari Kota Suci Makkah. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita semua bersama beliau kelak di akhirat.



Wallahu a'lam bi Asshawab.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages